Tak Berizin, Boleh Eksplorasi

– Pengambilan Benda-benda Kuno

Oleh Budi Cahyono

PENEMUAN benda-benda kuno seperti mangkuk, buli-buli, vas, dan bentuk-bentuk lainnya oleh nelayan membuat keberadaan Kabupaten Jepara kembali disorot para ahli. Pemkab Jepara dinilai tidak melindungi kekayaan sejarah dalam air. Terlebih lagi, benda-benda itu berusia lebih dari 1.000 tahun yakni pada masa Dinasti Qing.
“Kami menyayangkan, kenapa Pemkab Jepara tidak melindungi benda-benda bernilai sejarah tinggi ini?” tegas Riris Purbasari dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.
Riris bersama Muhammad Junawan dan Deny Wahyu Hidayat dengan Surat Tugas Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah Nomor 067/103.UM/BP 3/P-IV/2008 tertanggal 17 April 2008 ditugaskan meneliti benda-benda kuno yang diamankan Polres Jepara.
Dia menyesalkan, barang temuan itu sudah berkurang nilai sejarahnya, sebab sudah tidak dalam bentuk aslinya. Dari hasil klarisifikasi tersebut, diperoleh data jumlah keramik keseluruhan 326 buah. Terdiri atas 319 keramik lama, baik yang utuh, pecah maupun mengalami kamuflase bentuk dan warna, serta 7 keramik yang diduga masih baru.
“Sudah ditambal dengan lem, hal itu mengurangi nilai sejarah pada benda itu sendiri. Lebih baik jika tidak ditambah-tambahi lagi karena tidak merusak nilainya,” imbuh Riris.
Menilik latar belakang sejarah Jepara sebagai kota pelabuhan, dari tinjauan berbagai sumber, Riris menceritakan sejarah perairan Jepara. Secara umum perairan Indonesia berada di jalur strategis lintasan perdagangan dari Asia ke Eropa dan beberapa negara lainnya.
Salah satu perairan yang ramai dilalui para pedagang adalah perairan Jepara. Pada abad ke-16, Jepara merupakan pelabuhan penting karena letaknya di dalam teluk sehingga bisa dikunjungi kapal-kapal besar. Hal itu memungkinkan pertumbuhan sebagai pelabuhan penting dalam jalur perdagangan antar-Maluku dan Malaka.
Beragam transaksi hasil komoditas banyak terjadi di Pelabuhan Jepara. Salah satunya beras dan rempah-rempah. Hasil sawah di pedalaman (beras) menjadikan Jepara tempat ekspor beras yang krusial ke daerah Malaka dan Maluku.
Selain itu, dari Pelabuhan Jepara ini terjadi ekspedisi-ekspedisi penyeberangan Laut Jawa untuk meluaskan kekuasaan ke Bangka dan Kalimantan Selatan (Tanjung Pura dan Lawe). Setelah diduduki Mataram pada 1599, Jepara tetap merupakan pelabuhan penting bagi Kerajaan Mataram.
“Sumber-sumber Belanda juga menyebutkan adanya hubungan langsung antar-Jambi dan Jepara. Masuknya lada dari Jambi ke Jepara menarik pedagang-pedagang China datang ke Jepara,” ungkap Riris saat dikonfirmasi via telepon.
Disebutkan, pada abad ke-16, kota Lasem yang terletak antara pelabuhan-pelabuhan terkenal, yakni Tuban dan Jepara merupakan pusat industri galangan kapal yang terkenal. Salah satu pengusaha galangan kapal besar yang cukup terkenal pada masa itu adalah Ratu Kalinyamat, tokoh yang cukup dikenal di Jepara dan sekitarnya yang juga merupakan adik Sunan Prawoto
“Kami tidak kaget lagi, karena Jepara mempunyai latar belakang sejarah yang hebat di masa Ratu Kalinyamat. Bukti lainnya saat ditemukan kapal dagang di dalam Pasar Ratu pada saat pembangunan lalu,” katanya.
Disinggung apakah Pemkab Jepara melibatkan instansinya dalam pengambilan benda-benda kuno ini, dia menyatakan, hingga detik ini tidak ada pengajuan izin ataupun pendampingan.
“Pengambilan benda kuno ini harus berizin dan pendampingan dari beberapa instansi antara lain, pemkab, polisi, DKP, Balai Purbakala, dan instansi lainnya,” imbuhnya.
Itu pun masih dengan banyak catatan. Sebelum dilaksanakan pengambilan harus diteliti lebih dalam mana titik yang harus diambil, tidak boleh secara sembarangan.
Riris mencontohkan, misalnya dilakukan pengangkatan benda kuno dari dalam laut di sekitar Perairan Mandalika dengan radius tiga kilometer, tidak boleh lebih dari jarak itu.
“Kalau lebih jelas dilarang dan itu namanya ilegal. Benda penemuan ini jelas dilindungi oleh negara,” tegasnya.
Terpisah, Dede (20) salah seorang karyawan perusahaan swasta yang mengambil benda-benda di perairan Jepara, mengatakan, dirinya tidak tahu persis perusahaannya sudah mengantongi izin dari instansi terkait atau belum. “Silakan datang saja ke kantor, saya tidak tahu izin itu. Kami mengambil benda-benda kuno di sekitar perairan Jepara tepatnya di sekitar Pulau Mandalika,” ujarnya saat kapalnya merapat di Dermaga Pantai Kartini.
Kapolres Jepara AKBP Edy Suryanto melalui Kasat Reskrim AKP Fadly Samad mengatakan, saat ini persoalan tersebut masih didalami dengan mendatangkan saksi ahli.
“Kami akan memeriksa izin perusahaan tersebut, apakah sudah habis atau masih berlaku,” tandasnya.

SM/Budi Cahyono

BERNILAI TINGGI: Dua benda bersejarah yang diambil oleh nelayan di perairan Jepara memiliki nilai tinggi lantaran berasal dari dinasti Qing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: