Kerajinan Troso Dituntut Dipatenkan

SM/Budi Cahyono
MEMILAH BENANG: Seorang pekerja di Sentra Kerajinan Troso, di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, memilah benang sebelum ditenun. Kain Tenun Troso dituntut perajin untuk dipatenkan.
Khawatir Diklaim Negara Lain
PECANGAAN- Kerajinan kain Troso yang terletak Sentra Kerajinan Troso, Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, menuntut Pemkab Jepara melalui dinas terkait untuk dipatenkan. Hal tersebut dilakukan agar tidak dipatenkan oleh daerah lain, terlebih lagi oleh negara tetangga lain, seperi kasus yang menimpa kerajinan ukir yang diklaim oleh salah seorang pengusaha asing.
“Kami menginginkan kerajinan kain Troso ini dipatenkan, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti diklaim oleh warga luar negeri,” kata H Hisyam Abdurrahman.
Dia mencontohkan saat Reog Ponorogo yang diklaim oleh negara tetanngga Malayssia sebagai kesenian tradisional negara yang serumpun dengan Indonesia tersebut. Menilik kasus itu, Hisyam bersama para perajin Troso lainnya merasa khawatir, sebab kerajinan tenun yang selama ini diproduksi secara turun temurun bisa diklaim oleh negara lain.
“Para perajin di sini sering mendapatkan order dari negara tetangga lainnya, seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura. Kami merasa khawatir jika kerajinan yang dibuat dengan susah payah diklaim oleh mereka. Ini sebuah kerugian besar,” ucapnya. Saat ini perajin Troso memang melayani order dari berbagai daerah penjuru tanah air dan penjuru dunia dengan berbagai bentuk motif dan model, namun hasil karya itu tidak diberi label buatan Troso. Beberapa waktu lalu sebelum bahan bakar minyak (BBM) mengalami kenaikkan, para perajin harus dipusingkan kesulitan benang sebagai bahan baku. Kalau adapun harganya melonjak tak terbendung.
“Walau sekarang order terkadang naik turun, itu hal biasa dalam dunia usaha, tetapi pengakuan oleh dunia luar kalau kain tenun Troso berasal dari Jepara khususnya di Desa Troso harus diperjuangkan,” tambahnya.
Menanggapi keluhan para perajin, Kabid Perdagangan Disindagkop Salembayong mengatakan, pihaknya menyambut baik langkah yang diambil oleh para perajin kain
Troso, bahkan dia akan memfasilitasi keperluan perajin yang menginginkan untuk hak paten atau Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Dia meminta para perajkin untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan mana yang akan dipatenkan, apakah motif, tenunan, atau alat produksi.
“Silakan perajin datang ke Gedung Rengging untuk mengurus segala sesuatunya karena disana sudah ada lembaga  yang mengurusi masalah HaKI. Prinsipnya kami sangat menyambut baik langkah itu, dan berharap ada masukan-masukan lagi yang membangun,” ucap Bayong, Rabu (28/5).
Namun Bayong lebih lanjut mengungkapkan, segala sesuatunya harus dikaji dan dianalisis lebih dalam, tidak lantas langsung didaftarkan, karena kerajinan Troso memang harus mempunyai sifat khas dibanding daerah lainnya.
“Jangan kita nanti salah mengajukan, bisa bermasalah dengan daerah lain, sebab kaerajinan tenun tidak hanya dari Troso saja. Namun harus ada spesifikasi masalah motif atau lainnya. Untuk kain tenun Troso mempunyai kekhasan di susunan tekstur dan ciri khas motifnya,” tegasnya.(J4)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: