Bukti Kerukunan Warga

DINAMIKA warga Desa Tempur walau terpencil dari Kota Jepara, namun masih menyimpan kesahajaan, kedamaian dan yang jelas keramahtamahan warga menambah kerasan pendatang untuk berlama-lama. Di depan rumah petinggi Desa Tempur, Sutoyo, dibangun sebuah patung dengan wajah lelaki tambun dengan balutan hasil bumi sambil tertawa lebar. Pada saat membangun, menurut warga sekitar memang memiliki makna yang mendalam.
“Ini bukti kami selalu ramah menerima siapa pun warga dari daerah lain. Dan selalu bersyukur dengan hasil bumi yang melimpah,” ucap Ketua Karang Taruna Kiswantoro (30).
Bukti dari keramahtamahan dan kerukunan antarumat beragama dibuktikan dengan berdirinya gedung gereja dan masjid secara berhadapan di Desa Pekuso. Ini pemdangan yang cukup fenomenal bagi orang awam yang datang ke Tempur. Jarak gereja dan masjid pun hanya dipisahkan oleh jalan kampung yang lebarnya tak lebih dari empat meter. Arsitektur gereja dengan luas bangunan 192 m2 itu cukup sederhana. Gereja itu dibangun pada 1988. Terpampang nama Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) di depan terasnya. Di seberangnya, persis depan berdiri sebuah masjid. Cukup megah untuk masjid ukuran desa di lereng Gunung Muria. Al Mubarak, demikian nama masjid yang baru dibangun pada 2001 dengan dana swadaya masyarakat setempat.
”Bangunan itu memang dibangun di satu tempat. Namun, sejauh ini pemanfaatan ketiganya tidak pernah menimbulkan pertentangan meskipun hal itu dilakukan bersama-sama,” ujar Kiswantoro.
Kedekatan bangunan rumah ibadah di perkampungan itu tidak menimbulkan konflik yang menjebak warga menuju kefanatikan beragama, tetapi justru membawa keharmonisan, keakraban, dan kehangatan interaksi umat yang majemuk.
Kiswantoro mengisahkan awal mula rumah ibadah itu berhadapan. Di dukuh tersbeut hingga 2001 belum memiliki masjid. Warga berinisiatif untuk membangun masjid. Pihak desa pun mengumpulkan tokoh umat Islam dan Kristen di balai desa soal rencana pembangunan masjid. Tepatnya, 12 Mei 2001, di atas materai, perwakilan tokoh agama ini menandatangani nota kesepahaman. Intinya, masing-masing pemeluk agama harus menjaga keharmonisan dalam beragama dan memelihara toleransi antarumat beragama.
Upaya kerukunan antarumat beragama semakin digalakkan. Mereka yang berlainan agama pun berusaha mengimplementasikan kerukunan itu menjadi lebih konkret.
“Misalnya para pemuda muslim dengan sukarela menjaga keamanan pada saat Natal, begitu juga sebaliknya,” cerita Kiswantoro.
Rasa kebersamaan tergambar pada saat perayaan Natal atau hari besar Islam. Tidak ada perbedaan sama sekali. Mereka saling membaur dengan sambatan ke tetangga yang merayakan hari besar. Kilas balik sejarah keharmonisan mereka juga bisa ditelusuri dalam kehidupan sehari-sehari. Sebelum masjid dibangun, kebaktian atau persekutuan doa di gereja biasanya dilakukan pada Selasa, Kamis, dan Sabtu malam pukul 18.00 dengan menggunakan musik dan paduan suara pujian. Namun sejak berdiri masjid, kebaktian di gereja dilakukan setelah shalat isya di masjid. Demikian pula ketika Ramadan, kebaktian dilakukan lebih larut malam karena menunggu selesai shalat tarawih.
“Tetapi untuk kebaktian hari Minggu, jemaat GITJ mulai pukul 08:00. Itu tidak mengganggu penduduk yang lain, kami saling memahami dan bertoleransi satu dengan yang lainnya,” imbuhnya.
Dalam bermasyarakat, masyarakat setempat lebih terbuka. Mereka mereka belajar dengan baik dalam membangun dialog lintas iman tanpa mengesampingkan perbedaan-perbedaan ajaran yang dianut. Terbukti, mereka melepas kecurigaan-kecurigaan dalam beragama dan saling menghormati. Sisi lain dari dinamika penduduk, hampir 75% penduduk khususnya wanita bekerja di luar negeri. Jangan heran, walau termasuk desa terpencil, kondisi rumah warga tergolong sangat bagus untuk ukuran orang desa. Bangunan bertingkat dan keramik menjadi salah satu bukti kesuksesan sebagian besar warganya. Rata-rata dalam sebulan, 5-20 penduduk Tempur “mengunjungi” luar negeri untuk mendapatkanpenghidupan yang lebih baik. “Dalam sebulan, istri saya digaji Rp1,4 juta bekerja di Arab Saudi. Pulang pun tidak mesti, dua tahun atau tiga tahun sekali tergantung kontrak kerjanya,” kata Achmad Rofiq (42). Walau sering memendam rindu ingin bertemu dengan istri tercinta, para suami ini lebih mengedepankan masa depan anak-anak mereka demi perbaikan ekonomi.

Iklan

One Response to “Bukti Kerukunan Warga”

  1. aq ngak ngira gerejamu bisa berdekatan dengan saudara sepupu.tu laur biasa.ngak ngira

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: