Kembali Bangkit Pascabencana

Lumpur coklat lan watu gede/
nenggel, nubruk kang ono ngarepe/
tegal, sawah, dalan ugo kretek gede/
ilang musno embuh para/
Duh Gusti mugi paring pangapuran/
Sedoyo puniko pinangka ujian/
mugi ndadosaken tetek lan tambahe iman/
tanggal 20 Maret kang dadi kenangan/

CUKILAN puisi diatas dibuat Sahuri Ketua RT 2 RW 5 sesaat usai desa tercintanya diterjang banjir lumpur pada 20 Maret 2006 silam. Tanggal kejadian itu sekaligus menjadi judul puisi yang bikin sebagian pembacanya merinding. Tulisan tangan asli Sahuri yang di secarik kertas masih tersimpan rapi. “Ini tetap saya simpan untuk kenang-kenangan mengingat kejadian itu, kami warga desa sangat ngeri,” ceritanya.
Banjir bandang disertai bencana tanah longsor di sepanjang Kali Gelis itu terjadi pada saat siang hari sekitar pukul 10.00. Dibarengi dengan petir dan hujan yang deras, banjir itu meluluhlantakan desa yang saat itu berpenduduk 4.000 jiwa. Dua jalur utama menuju desa, dari Pati maupun Jepara terputus total tidak bisa dilewati. Penduduk terisolasi. Ada delapan titik jalan utama menuju desa yang tertimbun longsor. Tiap titik, tertutup longsoran tanah, kayu, dan bongkahan batu besar sejauh antara 500-100 meter.
“Di sisi Kali Gelis ini sebelumnya hamparan sawah yang cukup subur, tetapi selepas bencana itu, yang ada hanya bongkahan batu-batu besar,” imbuh Sahuri yang juga anggota karang taruna pemuda setempat untuk bagian sejarah.
Pemandangan dua tahun lalu itu, saat ini terlihat jauh berbeda. Di setiap sisi Kali Gelis yang mengalirkan air nan jernih itu, didominasi bongkahan-bongkahan batu yang cukup besar. Sumber air ini dimanfaatkan warga untuk aktivitas mandi dan mencuci pakaian serta aktivitas lainnya. Menurut data Yayasan Lingkar Kesetaraan Aksi dan Refleksi (YLSKaR), sedikitnya terdapat sekitar 100 titik longsor pada saat terjadi bencana. Di hulu Kali Lampean terdapat 30 titik, hulu Sungai Jambu 39 titik, hulu Sungai Watutatar 29 titik, dan 12 titik di hulu Kali Gelis.
Banjir bandang dan longsor di Desa Tempur terjadi bersamaan (hari dan waktu-red) dengan di Desa Medani (Tayu, Pati) dan Desa Rahtawu (Dawe, Kudus). Ketiga desa tersebut adalah desa desa yang terletak di pegunungan Muria. “Di wilayah pegunungan muria yang mengelilingi desa Tempur ditemukan sekitar 100 titik longsor dan puluhan hektare lahan kritis, wilayah tersebut merupakan hulu Kali Gelis (Kali Jambu dan Kali Watu tatar). Diduga longsor dan lahan kritis inilah salah satu kontributor banjir dan tanah longsor di Tempur,” ungkap Suhari.
Hutan lindung milik Perhutani yang semula adalah tanaman jati, mahoni, sengon laut, dan sengon lokal, akibat kebakaran yang terjadi sekitar tahun 1997, oleh masyarakat dan atas persetujuan Perhutani, hutan lindung yang rusak tersebut dialihfungsikan menjadi lahan pertanian yang ditanami jagung dan pisang. Petani yang menggunakan lahan kritis tersebut berasal dari Tempur (Keling), Batealit, dan Rahtawu (Kudus) dan mereka tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
“Hutan di Gunung Saptorenggo atau yang lebih dikenal dengan nama Puncak 29 mengalami kerusakan yang sangat parah. Terjadi longsor selebar kira-kira 20 meter,” imbuhnya.
Menurut Achmad Makhalli, Community Organizer Yayasan Lingkar Kesetaraan Aksi dan Refleksi (YLSKaR) Indonesia Cabang Jepara, mengtakan, kawasan pegunungan Muria pada dasarnya memang sangat berpotensi dengan keindahan alamnya, juga berpotensi pada bencana alam. Ini menilik kuntur tanah dan kondisi alam Desa Tempur. Hutan lindung yang seharusnya memang dilindungi dan tidak boleh ditanami pohon produksi sudah beralihfungsi dengan ditanami jagung dan lainnya. Fungsi hutan lindung sendiri dinilai sangat vital untuk daerah yang memiliki topografi semacam Tempur.
“Lebih baik menanam pohon yang bisa menahan tanah agar tidak longsor, tidak malah dialihfungsikan menjadi lahan produktif. Akibatnya bencana alam akan mengancam,” ucap Machali yang sejak 2005 sudah mengadakan penelitian bersama rekan-rekannya di Tempur.
Machali memaparkan, untuk rumah penduduk dengan tingkat kemiringan 40-60 derajat, sangat berpotensi terjadi longsor. Menurut pandangan Machali, Tempur memang memiliki potensi alam yang sangat luar biasa. Hal ini sudah disadari oleh warga. “Dari hasil diskusi dengan karang taruna dan kelompok warga yang lainnya, sebagian besar mereka tahu penyebab bencana yang terjadi beberapa tahun lalu, karena hutan lindung yang seharusnya dilindungi sudah beralih fungsi. Saat ini tanaman jagung sudah tidak ditanami lagi di lahan-lahan kritis,” tegas pria berkacamata minus ini.
Tempur juga berpotensi sebagai daerah tujuan wisata dengan keindahan alam dan ketersediaan lahan yang begitu memanjakan penduduk setempat. Jika pun dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata dan ikon baru, pihaknya berharap para investor tetap mengedepankan kearifan lokal warga setempat. Warga sudah siap untuk menyambut wisatawan lokal dari luar Keling. Karang taruna pun tidak ketinggalan dengan membuat buku panduan dari sisi sejarah serta sebagian kecil sebagai pemandu jika ada wisatawan lokal datang.
“Beberapa kali pengunjung dari luar Jepara sudah berkunjung dengan kelompok kecil atau besar sekitar 4-20 orang. Rumah-rumah warga ini bisa dijadikan homestay dan menambah pemasukan bagi warga,” tandasnya.
Dalam diskusi dengan warga beberapa waktu lalu, dirinya bersama warga optimis, Tempur bangkit lagi setelah keterpurukan pascabencana dan menatap cita-cita untuk mewujudkan Tempur menjadi desa agrowisata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: