Kopi Tempur Siap Tempur

BUKAN omong kosong ketika kalimat tersebut ditujukan kepada keberadaan kopi di Desa Tempur. Cukup menggelitik memang, tetapi kenyataannya seperti itu. Selain berprofesi sebagai petani, sebagian penduduk Tempur memang sebagai pembuat kopi. Jangan dibayangkan dengan peralatan canggih untuk mengolahnya, tetapi masih menggunakan cara manual bukan dengan mesin. Salah satu pembuat kopi yang sudah cukup lama, Giran (63) bersama istrinya Rumisih (55) memberanikan diri mencoba mengolah kopi robusta dan mengemasnya lalu menjualnya. Mbah Giran, sapaan akrabnya, sejak 1997 membuka usahanya di Dukuh Pekuso RT 1 RW 3.
“Hasil kebun kopi di sini memang berlimpah, sayang jika tidak dimanfaatkan untuk diolah dan dikemas lalu di pasarkan,” ujarnya.
Awal uji cobanya, karena dirinya akan pensiun menjadi guru di sebuah sekolah dasar negeri. Pasangan ini memutar otak untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Bidang pengolahan kopi yang dipilihnya, bukan sekali lantas berhasil, namun berkali-kali racikan kopinya harus terbuang sia-sia karena tidak berhasil.
Mbah Giran menuturkan, dalam sehari dirinya menghabiskan 16 kg kopi yang diolah. Cara pengolahannya dengan menumbuk kopi-kopi siap olah menggunakan alat alu seperti menumbuk padi. Kopi yang sudah jadi itu diberi label dagang Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Abiyoso dengan harga kemasan kecil Rp 1.000 dan paket besar Rp 5.000-Rp 10.000.
“Warga sudah pernah mengemas, tetapi terbentur dengan teknologi. Kami mengemasnya menggunakan lampu senthir untuk merekatkan plastik, sangat sederhana memang. Kami menginginkan kemasan kopi khas Tempur ini seperti di Banaran, terkesan ekslusif dengan tidak meninggalkan aroma asli Tempur,” tambah Rumisih.
Untuk memperkenalkan kopi khas Tempur, warga punya kiat tersendiri. Bagi warga pendatang, dipastikan akan disuguhi kopi dengan rasa Tempur. Dibanding dengan rasa kopi dari daerah lainnya, kopi Tempur mempunyai cita rasa tersendiri. Selain itu, kemasan-kemasan kopi yang siap jual, dipasarkan ke minimarket di luar Tempur. Kendala dana, mengakibatkan stagnannya permintaan kopi bikinan Tempur. Permasalahan lain, Pemkab Jepara dinilai masyarakat tidak merespons dengan keunggulan kearifan lokal terutama untuk kopi khas Tempur ini, ironis memang.
Sebenarnya nama Tempur sendiri sudah merupakan nama yang menjual alias kumedhol. Bukannya memprovokasi, tetapi memang sudah terbukti. Jika dikelola dengan baik dengan lebih berani menelurkan inovasi dalam kemasan serta memperluas daerah pemasaran, kopi tempur siap bersaing dengan kopi dari daerah lainnya. “Istilahnya, kopi Tempur siap tempur di pasar dengan mengandalkan cita rasanya yang khas. Harus merasakan kalau datang ke Tempur,” ujar Mbah Giran sembari berpromosi.
Warga optimis untuk rasa, kopi Tempur tidak ada duanya. Selain kopi, pemberdayaan ekonomi kerakyatan, warga juga membuat keripik singkong dan jahe. “Kami berangan-angan untuk mempromosikan kopi ini sembari menikmati alam dan ada investor yang membantu dengan perjanjian saling menguntungkan, kalau hanya petani saja yang menggeliat tidak bisa. Perlu dukungan pihak ketiga,” harap Mbah Giran.
Tidak hanya kopi, jahe, dan keripik saja menjadi andalan, tetapi pembudidayaan ulat sutera juga menjadi potensi yang layak dikedepankan. Selain itu, madu juga menjadi komoditas unggulan desa ini. Namun, untuk madu tidak bisa setiap saat ada, karena madu itu bukan perkembangbiakan lebah melainkan madu hutan yang mencarinya pun di tengah hutan. Warga menyebutnya madu alas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: