Arsitektur Monastik Gedono

Kamar Retreatan yang nyaman

Rumah retreat menjadi salah satu kawasan yang steril dari kebisingan. Rumah retreat, sesuai namanya, memiliki fungsi penyepian diri bagi para tamu. Bagi pribadi atau keluarga yang ingin berdoa dan diresapi lebih lama oleh alam hening pertapaan, disediakan kamar penginapan dengan tarif Rp 50.000 /orang/malam termasuk makan tiga kali sehari. Biasanya, mereka ini disebut “retretan”. Para retretan datang ke pertapaan untuk mengikuti ibadat harian dan perayaan ekaristi bersama dengan komunitas rubiah di kapel pertapaan. Saya merupakan salah satu dari retretan tersebut. Saat diantar suster Ema, saya melihat semua bangunan yang ada di pertapaan tersebut dindingnya terbuat dari batu alam dan bernilai seni tinggi. “Ya, Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono didesain oleh almarhum Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (Romo Mangun). Beliau dikenal sebagai pastor, pendidik, arsitek, sastrawan, serta budayawan. Sebagai seorang arsitek, karyanya cukup banyak. Salah satu karyanya pernah memperoleh Aga Khan Award tahun 1992, semacam penghargaan Nobel untuk karya arsitektur yaitu desain pemukiman Kali Code di Yogyakarta,” jelasnya. Desain Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono ini juga mendapat penghargaan utama dari Ikatan Arsitek Indonesia untuk kategori Desain Arsitektur. Arsitektur Monastik Cisterciensis melambangkan keserasian dan keindahan ilahi. Bangunan-bangunan dalam biara monastik dibangun dengan sederhana dan bersahaja. Suasana teduh, hening, dan sunyi di pertapaan ini sungguh menjadi daya tarik utama dipadukan dengan keagungan pesona alam lereng Gunung Merbabu. Semua ini tentunya akan membantu kekhusukan dalam melambungkan hati ke hadirat Allah. Masing-masing bagian bangunan dibuat terpisah satu sama lain. Misalnya ruang ibadah dalam satu bangunan, rumah tamu dalam satu bangunan, ruang cuci satu bangunan, ruang dapur dan makan satu bangunan, serta ruang tidur dari empat bangunan berbentuk rumah panggung serta pondok baca Maria yang terletak di tengah-tengah alam terbuka. Rumah tamu, bangunan ini cukup besar bagi para tamu, karena tamu yang datang tidak setiap hari. Bangunan ini menghadap ke utara, dengan bentuk memanjang dan berkoridor. Temboknya terbuat dari batu alam yang tersusun rapi. Berdiri di atas gundukan tanah dengan dua undakan tangga di depannya, tangga pertama langsung menghubungkan area parkir dengan tempat pendaftaran tamu. Tangga kedua berfungsi menghubungkan rumah tamu dengan retreat, rumah penyepian diri khusus untuk tamu. Tangga ini berbentuk tiga sengkedan dengan atap di atasnya. Kesan yang terbentuk amat harmonis. Ornamennya juga unik, ada dua pintu yang saling berseberangan, empat jendela berbentuk kubah, serta banyak kisi jendela berbentuk persegi dan bulat. Selain itu juga ada rumah toko yang menyediakan beragam hasil kerja tangan para rubiah. Bangunan dalam kapel sangat sederhana dan menyatu dengan alam dengan menggunakan batu alam berbentuk bulat sebagai altar serta patung Bunda Maria menggendong Yesus ala Jawa, mengingatkan setiap komunitas dalam Ordo dan rubiah dibaktikan kepada Santa Perawan Maria, Bunda dan lambang gereja dalam iman, kasih dan persatuan sempurna dengan Tuhan.

ruang bicara bagi para tamu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: