Terappist Gedono Hidup dalam Doa dan Pelayanan

Biara merupakan sekolah pengabdian Tuhan. Di situ Kristus dibentuk dalam hati setiap orang yang merindukan kedatangan Tuhan melalui liturgi, pengajaran abdis dan tata hidup persaudaraan. Melalui Lectio Divina (cara monastik untuk berdoa dengan menggunakan kitab suci) komunitas rubiah Cisterciensis berkumpul untuk merayakan liturgi Ekaristi dan ibadat harian tujuh kali sehari, yakni ibadat Laudes, Prima, Terzia, Sexta, Nona, Vesper dan Completorium. Acara harian monastik merupakan keseimbangan antara doa pribadi, doa liturgi, lectio divina, dan kerja tangan. Selama mengikuti retreat saya membiasakan bangun pukul 02:55 WIB. Lima menit sebelum jadwal ibadah dimulai lonceng kapel sudah berdentang memecah kelam. Para rubiah di Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono segera menyudahi tidurnya. Usai berbenah diri, dengan mengenakan kovel (mantol putih) bak mutiara yang teruntai rapi mereka bergegas dalam keheningan memasuki kapel. Tepat pukul 03:15 WIB, Mazmur dan Kidung mulai berkumandang. Ibadat Malam dimulai. Selepas itu, mereka membaktikan diri dalam doa hening, disusul dengan Bacaan Ilahi (Lectio Divina). Bergulir ke pukul 05:45 WIB, kumandang Mazmur dan Kidung kembali terdengar. Ibadat Pagi itu pun mengalir dalam iringan lembut musik. Kadang orgen, kadang juga gending atau sejenis kecapi yang sangat syahdu dan menyentuh hati. Puncak dari seluruhnya adalah perayaan Ekaristi, pukul 07:30 WIB. Selepas ini, acara harian ditentukan oleh jam-jam Ibadat Harian (Ofisi Ilahi) sebagai sarana untuk memperpanjang Ekaristi sepanjang hari dan menguduskan waktu dan dunia. Ibadat-ibadat yang dilakukan dalam rangkaian madah, Mazmur dan Kidung, bacaan, serta saat-saat hening itu bergulir dari waktu ke waktu. Ibadat Jam Ketiga (usai perayaan Ekaristi), Ibadat Jam Keenam (11:15 WIB), Ibadat Jam Kesembilan (13:30 WIB), dan Ibadat Sore (16:45WIB). Sebelum istirahat malam (19:30 WIB), pada pukul 18:55 WIB para Rubiah Cisterciensis itu menutup hari dengan Ibadat Penutup yang diakhiri dengan nyanyian ‘Salam, Ya Ratu’ (Salve Regina) sesuai tradisi monastik untuk menyerahkan diri ke dalam perlindungan Bunda Maria. Setelah menikmati kegembiraan di suatu senja yang tenang dan penuh rasa kekeluargaan, kita akhirnya menutup sebuah ibadat yang disebut Completorium. Itulah waktu untuk merenungkan hari yang sebentar lagi akan berlalu dan mengungkapkan beberapa kata tobat serta menerima pengampunan sehingga kita boleh mengaso dalam damai. Disela-sela jam-jam rutinitas harian itu, para rubiah melakukan kegiatan di dalam kompleks klausura atau slot (ruangan pertapaan yang tertutup untuk umum dan hanya terbuka bagi para rubiah saja). Mereka mencari nafkah dengan kerja tangan (membuat hosti, selai, sirup, rosario dan kartu rohani). Melalui persetujuan tata tertib rumah tangga yang menetapkan hari-hari sebagai waktu hening tanpa bunyi radio, stereo, serta televisi, membuat mereka selalu mendambakan kedamaian batin sebagai tempat persemaian yang hikmat. Namun, ada kalanya berkumpul di ruang Kapitel untuk mendengarkan sebagian dari Peraturan St. Benediktus, pembacaan, pengumuman akan berita dunia, diskusi, dan dialog atau pengajaran dari Ibu Abdis, Sr Martha E Driscoll OSCO. (Istolia Wahyu Wardani)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: